METODE HARGA POKOK PESANAN
DAN HARGA POKOK PROSES
OLEH:
1.DIONISIUS HENDRI GUNAWAN
2.HERMANTO
3.PINDY LAELI NURUL HUDA
4.MONIKA NELLI
5.VICKTOR APRILLIO TOMMY F
6.KRITINA WELI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TRIBHUWANA
TUNGGADEWI MALANG
2016
DAFTAR ISI
1.1 METODE HARGA
POKOK PESANAN...............................................................3
2.1METODE HARGA POKOK
PROSES.......................................................................14
1.1 METODE HARGA POKOK PESANAN
A. Metode Pengumpulan Harga Pokok
Metode
pengumpulan harga pokok dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.
Metode
harga pokok pesanan
Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk
di mana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan. Pengolahan produk akan dimulai
setelah datangnya ada pesanan
2.
Metode
harga pokok proses
Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan harga pokok produk
dimana biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu. Pada metode harga
pokok proses perusahaan menghasilkan produk yang homogin, bentuk produk
bersifat standar, dan tidak tergantung spesifikasi yang diminta oleh pembeli.
B. Karakteristik Harga Pokok Pesanan
Pada
perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan memiliki karakteristik,
sebagai berikut:
1.
Tujuan
produksi perusahaan untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya tergantung
pada spesifikasi pemesan
2.
Biaya
produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan tujuan dapat dihitung harga
pokok pesanan dengan relatif teliti dan adil. Dihubungkan dengan sistem
akuntansi biaya yang digunakan untuk membebankan harga pokok kepada produk,
metode harga pokok pesanan menggunakan:
·
Sistem
harga pokok historis digunakan untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung , sedangkan untuk biaya overhead pabrik menggunakan tarif biaya yang
ditentukan dimuka.
·
Dalam
metode harga pokok pesanan, dapat juga menggunakan Sistem harga pokok yang
ditentukan dimuka untuk seluruh elemen biaya.
·
Jumlah
total harga pokok untuk pesanan tertentu dihitung pada saat pesanan selesai,
dengan menjumlahkan seluruh biaya yang dibebankan kepada pesanan yang
bersangkutan. Harga pokok satuan dihitung dengan cara membagi jumlah total
harga pokok pesanan dengan jumlah satuan produk pesanan.
C. Aliran Kegiatan Perusahaan Manufaktur
Aliran
harga pokok produk menunjukkan aliran biaya produksi dalam rangka kegiatan
pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang selanjutnya dijual, oleh
karena itu aliran harga pokok produk akan dipengaruhi aliran kegiatan.
Aliran
kegiatan perusahaan manufaktur secara umum terdiri dari:
1.
Pengadaan
Pengadaan adalah kegiatan untuk memperoleh atau mengadakan barang dan
jasa yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi, dapat dikelompokkan menjadi:
·
Pembelian,
penerimaan, dan penyimpanan bahan baku, bahan penolong, supplies pabrik, dan
elemen lainnya yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi
·
Perolehan
jasa dari tenaga kerja langsung, tenaga kerja tak langsung dan jasa lainnya
yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi.
2.
Produksi
Produksi adalah kegiatan pengolah bahan baku menjadi produk selesai.
Pada kegiatan tersebut akan dikonsumsi bahan baku, tenaga kerja langsung,
barang dan jasa lainnya yang dikelompokkan dalam overhead pabrik.
3.
Penyimpanan
produk selesai
Produk yang telah selesai diproduksi dari pabrik akan dipindahkan ke
dalam gudang produk selesai menunggu saat dijual atau diserahkan kepada
pemesan.
4.
Penjualan
produk selesai.
Produk yang sudah laku dijual akan dikeluarkan dari gudang produk
selesai untuk dikirim kepada pembeli, dan perusahaan dapat membebani rekening
langganan atau pembeli.
D. Prosedur Akuntansi Biaya pada metode Harga Pokok Pesanan
Prosedur
akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan dapat dikelompokkan menjadi:
1.
Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies.
2.
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja.
3.
Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik.
4.
Prosedur akuntansi produk selesai dan produk
dalam proses akhir periode
5.
Prosedur akuntansi penjualan dan penyerahan
produk kepada pemesan.
Berikut
ini akan dibahas per prosedur, sesuai dengan urutan yang telah disebutkan
diatas.
1. Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies
Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies meliputi prosedur pembelian
sampai dengan pemakaian bahan dan supplies di dalam pabrik. Secara ringkas
prosedur akuntansi bahan dan supplies dapat digambarkan sebagai berikut:.
Transaksi dan Dokumen Dasar
|
Jurnal Transaksi
|
Buku Besar Pembantu
|
Pembelian
Bahan dan Supplies:
Faktur Pembelian
BuktiPenerimaan Barang
Pesanan Pembelian
Pengembalian
Pembelian:
Debit Memorandum
Laporan Pengiriman
Pengembalian
Pembelian
|
Persediaan Bahan Baku xx
Persediaan Bahan Penolong xx
Persediaan Supplies Pabrik xx
Hutang Dagang
xx
Hutang
Dagang
xx
Persediaan
Bahan Baku xx
Persediaan
Bahan Penolong xx
Persediaan
Supplies Pabrik xx
|
Kartu Persediaan:
Bahan Baku
Bahan Penolong
Supplies Pabrik
Kartu Persediaan:
Bahan Baku
Bahan Penolong
Supplies Pabrik
|
Potongan
Tunai Pembelian:
Bukti Kas Keluar
|
Hutang
Dagang
xx
Persediaan
Bahan Baku xx
Persediaan
Bahan Penolong xx
Persediaan
Supplies Pabrik xx
Kas
xx
Atau:
Hutang
Dagang
xx
Penghasilan
Lain-Lain xx
Kas
xx
|
Kartu Persediaan:
Bahan Baku
Bahan Penolong
Supplies Pabrik
|
Pemakaian
Bahan Baku:
Bon Permintaan Bahan
|
Barang Dalam Proses- B. Bhn Baku xx
Persediaan
Bahan
Baku
xx
|
Kartu Persediaan:
Bahan Baku
Kartu Harga Pokok Pesanan
|
Pemakaian
Bahan Penolong:
Bon Permintaan Bahan
Pemakaian
Supplies Pabrik:
Bon Permintaan Bahan
|
Biaya Overhead P Sesungguhnya xx
Persediaan Bahan Penolong xx
Biaya Overhead P Sesungguhnya xx
Persediaan Supplies
Pabrik xx
|
Kartu Persediaan:
Bahan Penolong
Kartu Biaya:
Overhead Pabrik
Kartu Persediaan:
Supplies Pabrik
Kartu Biaya:
Overhead Pabrik
|
Pengembalian
Bahan Baku dari Pabrik ke Gudang Bahan
|
Persediaan Bahan Baku
xx
Barang Dalam Proses-
Biaya Bahan
Baku
xx
|
Kartu Persediaan:
Bahan Baku
Kartu Harga Pokok Pesanan
|
2. Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja.
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji
dan upah, pembayaran gaji dan upah, dan distribusi gaji dan upah untuk semua
karyawan perusahaan baik produksi maupun bagian non produksi. Secara ringkas
prosedur akuntansi biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut:
Transaksi dan Dokumen Dasar
|
Jurnal Transaksi
|
Buku Besar Pembantu
|
Penentuan
Gaji dan Upah:
Daftar Hadir
Kartu Jam Kerja
Daftar Gaji dan Upah
|
Biaya Gaji dan
Upah
xx
Hutang Pajak
Pendapatan xx
Hutang Dana Pensiun
xx
Hutang
Astek
xx
Hutang Asuransi
Hari Tua xx
Piutang
Karyawan
xx
Hutang Gaji dan
Upah
xx
|
|
Pembayaran
Gaji dan Upah:
Bukti Kas Keluar
|
Hutang Gaji dan
Upah
xx
Kas
xx
|
|
Distribusi
Gaji dan Upah:
Perintah Jurnal
|
Barang Dalam Proses- B TKL xx
BOP
Sesungguhnya
xx
Biaya Pemasaran
xx
Biaya Administrasi dan Umum xx
Biaya Gaji dan
Upah
xx
|
Kartu Harga Pokok Pesanan dan Kartu Biaya Overhead Pabrik
Pemasaran
Administrasi dan Umum
|
Beban
atas Gaji dan Upah:
Daftar Sumbangan atas
Gaji dan Upah
|
BOP
Sesungguhnya
xx
Biaya
Pemasaran
xx
Biaya Administrasi dan Umum xx
Hutang Pajak
Pendapatan xx
Hutang Dana
Pensiun
xx
Hutang Astek
xx
Hutang Asuransi
Hari Tua xx
|
Karu Biaya:
Overhead Pabrik
Pemasaran
Administrasi dan
Umum
|
Penyetoran
atas Potongan dan beban Gaji dan upah:
Bukti Kas Keluar
|
Hutang Pajak Pendapatan
xx
Hutang Dana
Pensiun
xx
Hutang
Astek
xx
Hutang Asuransi Hari
Tua xx
Kas
xx
|
|
3.
Prosedur akuntansi biaya
overhead pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling komplek.untuk keadilan
dan ketelitian pembebanan harus digunakan tarif biaya overhead pabrik yang
ditentukan dimuka.
Apabila tarif biaya overhead pabrik sudah ditentukan, prosedur akuntansi
biaya overhead pabrik sebagai berikut:
a.
Prosedur
pembebanan biaya overhead pabrik pada pesanan
Atas dasar perintah jurnal, maka dibuat jurnal pembebanan BOP dan
dimasukkan ke dalam Kartu Harga Pokok Pesanan.
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead
Pabrik xx
Biaya Overhead Pabrik
Dibebankan
xx
b.
Prosedur
akuntansi pengumpulan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya
Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam periode yang
bersangkutan ditampung dalam rekening Biaya Overhead Sesungguhnya dan
dimasukkan ke dalam Kartu Pembantu Biaya Overhead Pabrik. Berikut ini
dibahas jurnal untuk setiap elemen:
(1) Biaya Bahan Penolong (secara detail telah dibahas di prosedur akuntansi
biaya Bahan). Jurnal untuk pemakaian bahan penolong sbb:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Persediaan Bahan
Penolong
xx
(2) Biaya tenaga Kerja Tak Langsung (secara detail telah dibahas di prosedur
akuntansi biaya tenaga kerja). Atas dasar Daftar Gaji dan Upah, maka jurnal
untuk biaya tenaga kerja tak langsung sbb:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Biaya Gaji dan
Upah
xx
Jika Pajak, dan asuransi menjadi tanggungan perusahaan, maka jurnalnya:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
xx
Hutang Pajak Pendapatan
xx
Hutang Dana
Pensiun
xx
Hutang
Astek
xx
Hutang Asuransi Hari Tua
xx
(3) Biaya Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap Pabrik
Jurnal untuk penyusutan dan amortisasi aktiva pabrik adalah:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Akumulasi Peyusutan
Mesin
xx
Akumulasi Penyusutan Bangunan
xx
Akumulasi Penyusutan
Peralatan
xx
Amortisasi Hak
Paten
xx
(4) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik
Biaya reparasi dan pemeliharaan timbul karena pembelian suku cadang atau
pembelian jasa reparasi.
Jika terjadi pembelian suku cadang, maka jurnalnya sbb:
Persediaan Suku
Cadang
xx
Hutang Dagang/
Kas
xx
Jika terjadi pemakaian suku cadang, mak jurnalnya sbb:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Persediaan Suku
Cadang
xx
Jika terjadi pembayaran jasa atas servis yang diterima perusahaan, maka
jurnalnya adalah:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Kas
xx
(5) Biaya Listrik dan Air untuk Pabrik
Jurnal untuk pemakaian listrik dan air untuk pabrik sbb:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Kas/ Hutang
Biaya
xx
(6) Biaya Asuransi Pabrik
Jurnal pada saat pembayaran persekot asuransi sbb:
Persekot
Asuransi
xx
Kas
xx
Jurnal pada saat pengakuan biaya:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Persekot
Asuransi
xx
c.
Prosedur
akuntansi perhitungan dan perlakuan selisih biaya overhead pabrik
Pada akhir periode akuntansi akan dihitung besarnya selisih biaya BOP
sesungguhnya dengan BOP yang dibebankan. Berikut ini jurnal yang biasanya
dibuat di perusahaan:
(1) Jurnal menutup biaya overhead pabrik dibebankan ke biaya overhead pabrik
sesungguhnya.
Biaya Overhead Pabrik
Dibebankan
xx
Biaya
Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
(2) Jurnal untuk menutup biaya overhead pabrik sesungguhnya dan menghitung
selisih
Apabila BOP sesungguhnya lebih besar dibandingkan BOP dibebankan, maka
jurnalnya sbb:
Selisih Biaya Overhead
Pabrik
xx
BOP
Sesungguhnya
xx
Apabila BOP sesungguhnya lebih kecil dibandingkan BOP dibebankan, maka
jurnalnya sbb:
BOP
Sesungguhnya
xx
Selisih Biaya Overhead
Pabrik
xx
(3) Salah satu perlakuan yaitu masuk ke rekening Rugi laba
Jika terdapat selisih tidak mengguntungkan, maka jurnal sbb:
Rugi-Laba
xx
Selisih Biaya Overhead
Pabrik
xx
Jika terdapat selisih menguntungkan, maka jurnalnya yang dibuat adalah:
Selisih Biaya Overhead
Pabrik
xx
Rugi-Laba
xx
4.
Prosedur akuntansi produk selesai dan produk
dalam proses akhir periode
Jika pesanan telah selesai di produksi, maka jurnal yang dibuat sbb:
Persediaan Produk
Selesai
xx
Barang Dalam Proses- Biaya Bahan
Baku
xx
Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang Dalam Proses- Biaya Overhead
Pabrik
xx
Jika pada akhir periode masih ada pesanan yang belum selesai, maka
jurnalnya adalah:
Persediaan Produk dalam
Proses
xx
Barang Dalam Proses- Biaya Bahan
Baku
xx
Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang Dalam Proses- Biaya Overhead
Pabrik
xx
5.
Prosedur akuntansi penjualan dan penyerahan
produk kepada pemesan.
Berdasarkan faktur penjualan, maka jurnal penjualan barang adalah:
Piutang Dagang/
Kas
xx
Penjualan
xx
Harga Pokok
Penjualan
xx
Persediaan Produk
Selesai
xx
E. Perlakuan Sisa Bahan,
Produk Rusak, Produk cacat pada Metode Harga Pokok Pesanan
Dalam
pengolahan produk untuk melayani pesanan, kemungkinan timbul sisa bahan, produk
rusak, maupun produk cacat.Bagi manajemen masalahnya adalah bagaimana dapat
menekan timbulnya sisa bahan, produk cacat dan produk rusak serendah mungkin.
Berkut ini dibahas tentang masalah perlakuan akuntansi untuk masing-masing:
1.
Sisa Bahan
Dalam perusahaan manufaktur dapat timbul sisa bahan dari proses
pengolahan produk, yang disebut sisa bahan. Sisa bahan adalah bahan yang
tersisa atau bahan yang rusak di dalam proses pengolahan produk atau
penyimpanan dan tidak dapat digunakan kembali dalam perusahaan.
Sisa bahan dapat dikelompokkan menjadi dua:
a.
Sisa bahan yang tidak laku dijual
(1) Apabila sisa bahan terjadinya karena pengerjaan pesanan tertentu, biaya
pembuangan atau pemusnahan sisa bahan dapat digunakan untuk menambah elemen
biaya bahan baku pesanan yang bersangkutan. Jurnal yang digunakan untuk
mencatat biaya pemusnahan sisa bahan adalah:
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan xx
Kas
xx
(2) Apabila sisa bahan secara normal terjadinya dalam perusahaan, biaya
tersebut dapat diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik sesungguhnya.Jurnal
yang digunakan untuk mencatat biaya pemusnahan sisa bahan adalah:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya xx
Kas
xx
b.
Sisa bahan yang laku dijual
(1) Apabila timbulnya sisa bahan disebabkan karena pengolahan pesanan
tertentu, hasil sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku atau
pengurang biaya keseluruhan biaya produksi pesanan yang bersangkutan. Jurnal
yang digunakan untuk mencatat penjualan sisa bahan adalah:
Kas
xx
Barang Dalam Proses –
Biaya
Bahan
xx
(2) Apabila timbulnya sisa bahan sifanya normal di dalam suatu perusahaan,
perlakuan hasil penjualan dapat digunakan cara sbb:
(a) Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya overhead
pabrik yang sesungguhnya. Jurnal yang digunakan untuk mencatat penjualan sisa
bahan adalah:
Kas
xx
Biaya
Overhead Pabrik
Sesungguhnya xx
(b) Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai penghasilan
lain-lain.Jurnal yang digunakan untuk mencatat penjualan sisa bahan adalah:
Kas
xx
Penghasilan Lain –
Lain
xx
2.
Produk Rusak
Produk rusak adalah produk dihasilkan dalam kondisi rusak atau tidak
memenuhi ukuran mutu yang sudah ditentukan dan tidak ekonomis untuk diperbaiki
menjadi produk yang baik, meskipun mungkin secara tehnik dapat diperbaiki
menjadi produk yang baik. Produk yang rusak dapat digolongkan menjadi dua:
a.
Produk rusak yang tidak laku dijual
Perlakuan produk yang rusak tergantung penyebab timbulnya produk rusak:
(1) Apabila produk rusak disebabkan sulitnya pengerjaan pesanan tertentu,
maka harga pokok produk yang rusak dibebankan pada pesanan yang menimbulkan produk
rusak, sehingga harga pokok produksi per unit produk menjadi lebih besar. Akan
tetapi tidak ada tambahan jurnal yang harus dicatat.
(2) Apabila produk yang rusak terjadinya bersifat normal dalam suatu
perusahaan,maka harga pokok produk rusak diperlakukan sebagai elemen biaya
overhead sesungguhnya. Jurnal yang harus dicatat adalah:
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan
xx
Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang dalam Proses –
BOP
xx
(3) Apabila produk rusak karena kesalahan atau kurangnya pengawasan, maka
harga pokok produk yang rusak diperlakukan sebagai Rugi produk yang rusak.
Jurnal yang harus dicacat adalah:
Rugi Produk
Rusak
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan
xx
Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang dalam Proses –
BOP
xx
b.
Produk rusak yang laku dijual
Perlakuan akuntansi untuk produk rusak yang laku dijual:
(1) Apabila produk rusak yang disebabkan sulitnya pengerjaan pesanan
tertentu, rugi atas penjualan produk yang rusak akan dibebankan pada pesanan
yang bersangkutan. Karena sebagian pesanan akan mengalami rusak, dalam
pengolahan pesanan harus dimasukkan jumlah yang lebih besar dibanding dengan
jumlah yang dipesan. Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:
Kas
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan
xx
Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang dalam Proses – BOP
xx
(2) Apabila timbulnya produk rusak bersifat normal di dalam suatu
perusahaan, rugi produk yang rusak diperlakukan sebagai elemen biaya overhead
pabrik sesungguhnya.Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:
Kas
xx
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan
xx
Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung
xx
Barang dalam Proses –
BOP
xx
(3) Apabila timbulnya produk yang rusak karena kesalahan atau kurangnya
pengawasan produksi, rugi produk yang rusak diperlakukan sebagai Rugi produk
yang rusak. Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:
Kas
xx
Rugi Produk
Rusak
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Bahan
xx
Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja
Langsung xx
Barang dalam Proses –
BOP
xx
3.
Produk cacat
Produk cacat adalah produk dihasilkan yang kondisinya rusak atau tidak
memenuhi ukuran mutu yang sudah ditentukan, akan tetapi produk tersebut masih
dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi produk yang baik. Perlakuan akuntansi
untuk produk yang cacat:
(1) biaya perbaikan produk cacat diperlakukan sebagai penambah harga pokok
pesanan tertentu. Metode ini digunakan apabila penyebab produk cacat karena
sulitnya pengerjaan produk. Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya
perbaikan produk cacat adalah:
Barang Dalam Proses – Biaya
bahan
Baku
xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Tenaga Kerja Langsung xx
Barang Dalam Proses – Biaya
Overhead
pabrik
xx
Persediaan
Bahan
xx
Gaji dan Upah
xx
Biaya Overhead Pabrik yang
Dibebankan
xx
(2) Biaya perbaikan produk yang cacat diperlakukan sebagai penambah biaya
overhead sesungguhnya. Metode ini digunakan apabila produk cacat sifatnya
normal terjadi dalam perusahaan. Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya
perbaikan produk cacat adalah:
Biaya Overhead
Sesungguhnya
xx
Persediaan
Bahan
xx
Gaji dan
Upah
xx
Biaya Overhead Pabrik yang
Dibebankan
xx
(3) Biaya perbaikan produk cacat diperlakukan sebagai elemen Rugi produk
cacat. Metode ini digunakan jika produk cacat disebabkan karena lemahnya
pengawasan. Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya perbaikan produk cacat
adalah:
Rugi Produk
cacat
xx
Persediaan
Bahan
xx
Gaji dan
Upah
xx
Biaya Overhead Pabrik yang
Dibebankan
xx
2.1METODE HARGA POKOK PROSES
A. Karakteristik
Metode Harga Pokok Proses
Karakteristik utama dari harga pokok proses adalah:
1.
Laporan harga pokok produksi digunakan untuk
mengumpulkan, meringkas, dan menghitung harga pokok baik total maupun satuan
atau per unit. Apabila produk diolah melalui beberapa tahap atau departemen,
laporan harga pokok disusun setiap departemen dimana produk diolah.
2.
Biaya produksi periode tertentu dibebankan kepada
produk melalui rekening barang dalam proses yang diselenggarakan untuk setiap
elemen biaya.
3.
Produksi dikumpulkan dan dilaporkan untuk satuan waktu
tertentu.
4.
Produksi ekuivalen digunakan untuk menghitung harga
pokok persatuan. Produksi ekuivalen adalah tingkatan atau jumlah produksi
dimana pengolahan produk dinyatakan dalam ukuran produk selesai.
5.
Untuk menghitung harga pokok persatuan setiap elemen
biaya produksi tertentu tersebut dibagi dengan produksi ekuivalen untuk elemen
yang bersangkutan.
6.
Harga pokok yang diperhitungkan untuk mengetahui
elemen-elemen yang menikmati biaya yang dibebankan, berapa yang dinikmati
produk selesai dari departemen tertentu atau pengolahan yang dipindahkan ke
gudang atau ke departemen berikutnya dan berapa harga pokok produk dalam proses
akhir.
B. Sistem
Pembebanan Biaya pada Metode Harga Pokok Proses
Dalam metode harga pokok pesanan, pembebanan biaya dapat menggunakan
sistem sebagai berikut:
1.
Semua elemen biaya dibebankan berdasarkan biaya
sesungguhnya terjadi.Untuk pembahasan selanjutnya sistem ini yang dipakai
sebagai dasar pembahasan.
2.
Biaya bahan dan biaya tenaga kerja dibebankan
berdasarkan biaya sesungguhnya yang terjadi, akan tetapi untuk biaya overhead
bibebankan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka (seperti pada metode harga
pokok pesanan). Metode ini dipakai jika kondisi di perusahaan adalah:
·
Perusahaan menghasilkan beberapa jenis produk.
·
Produksi tidak stabil dari waktu ke waktu.
·
Elemen biaya overhead merupakan elemen biaya yang
relative tinggi.
3.
Semua elemen biaya dibebankan pada produk atas dasar
harga pokok ditentukan dimuka. Metode ini baik terutama untuk perencanaan,
pengambilan keputusan, dan pengendalian biaya.
C. Penggolongan
Biaya dan Jurnal Akuntansi Pada Metode Harga Pokok Proses
Dalam metode harga pokok proses, biaya produksi
digolongkan menjadi:
1. Biaya
Bahan
Dalam metode harga pokok pesanan tidak diadakan
pemisahan antara bahan baku dan bahan penolong, hal ini disebabkan produk yang
dihasilkan bersifat homogin dan bentuknya standar, Sehingga setiap satuan
produk yang sama menikmati bahan yang relatif sama.
Kartu
buku besar pembantu persediaan dibuat untuk setiap jenis bahan, permintaan oleh
setiap departemen yang menggunakan bahan digunakan dokumen Bon Permintaan Bahan
dan pemakaian bahan di dalam produksi oleh setiap departemen harus dibuatkan
Laporan Pemakaian Bahan yang akan dipakai dasar menyusun Laporan Harga Pokok
Produksi.
Jurnal
yang digunakan untuk pemakaian bahan adalah:
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan
xx
Persediaan Bahan
xx
2. Biaya
Tenaga Kerja
Dalam metode harga pokok pesanan tidak dipisahkan
antara biaya tenaga kerja langsung dengan biaaya tenaga kerja tak langsung.
Berdasarkan Daftar gaji dan Upah, maka dibuat jurnal sebagai berikut:
Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja xx
Biaya Gaji dan
Upah
xx
Apabila produk diolah melalui beberapa departemen,
semua biaya tenaga kerja pada departemen produksi digolongkan sebagai biaya
tenaga kerja, sedangkan biaya tenaga kerja departemen pembantu diperlakukan
sebagai elemen biaya overhead pabrik.
3. Biaya
Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik pada metode harga pokok proses
adalah semua biaya produksi didepartemen produksi selain biaya bahan dan biaya
tenaga kerja, ditambah biaya yang terjadi di departemen pembantu.
Jika
biaya overhead terjadi, maka dilakukan jurnal sebagai berikut:
Biaya Overhead
Pabrik
xx
Kas
xx
Persediaan Supplies Pabrik
xx
Persediaan Suku
Cadang
xx
Persekot
Biaya
xx
Akumulasi Penyusutan
xx
Hutang
Biaya
xx
Pembebanan
biaya overhead pabrik kepada produk dibuat jurnal sebagai berikut:
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead
Pabrik xx
Biaya Overhead
Pabrik
xx
D. Penerapan Pencatatan Akuntansi Pada metode Harga Pokok
prose
1. Pengolahan Produk Dalam Satu
tahap/departemen (tanpa ada produk hilang dalam Proses)
2. Pengolahan Produk lebih dari Satu
tahap/departemen (ada produk hilang dalam Proses)
Ada dua metode perlakuan produk hilang didalam
proses, yaitu:
a. Produk hilang dianggap terjadi awal proses
Apabila produk hilang dianggap terjadi pada awal
proses karakteristik pengaruhnya terhadap perhitungan harga pokok sebagai
berikut:
1.
Produk hilang awal
proses dianggap tidak menikmati biaya produksi pada departemen atau tahap
dimana produk hilang.
2.
Dalam perhitungan
produksi ekuivalen, produk hilang awal proses tidak dimasukkan ekuivalen
produksi.
3.
Produk hilang awal
proses tidak dibebani harga pokok.
4.
Produk hilang awal
proses yang terjadi pada departemen lanjutan mengakibatkan harus dilakukan
penyesuaian harga pokoksatuan yang diterima dari departemen sebelumnya, oleh
karena pemikul biaya jumlahnya berkurang dan jumlah total biaya sama maka harga
pokok satuan dari departemen sebelumnya menjadi lebih besar.
b. Produk hilang dianggap terjadi akhir prose
Apabila produk hilang dianggap terjadi pada akhir
proses, karakteristik pengaruhnya terhadap perhitungan harga pokok sebagai
berikut:
(1) Produk
hilang awal proses dianggap telah menikmati biaya produksi pada departemen atau
tahap dimana produk hilang.
(2) Dalam
perhitungan produksi ekuivalen, produk hilang awal proses dimasukkan ekuivalen
produksi.
(3) Produk
hilang akhir proses diperhitungkan harga pokok, harga pokok pokok produk hilang
tersebut dibebankan kepada produk selesai yang dipindahkan ke departemen
berikutnya atau ke gudang produk selesai.
(4) Dengan
pembebanan harga pokok produk hilang akhir proses kepada harga pokok produk
selesai, mengakibatkan jumlah total harga pokok prodk selesai menjadi lebih
besar, oleh karena pemikul harga pokok jumlahnya tidak bertambah yaitu sebesar
produk selesai maka harga pokok satuan yang dipindahkan ke gudang produk
selesai atau ke departemen berikutnya ikut bertambah.
2. Pengolahan Produk lebih dari Satu
tahap/departemen (ada produk dalam Proses dalam awal periode)
Produk dalam proses pada awal periode berasal dari
produk dalam proses pada akhir periode sebelumnya dan telah menikmati harga
pokok pada periode sebelumnya sesuai dengan departemen di mana produk masih
dalam proses. Apabila produk dalam proses awal berada dalam departemen pertama
harga pokok yang telah dinikmati meliputi biaya bahan, biaya tenaga kerja, dan
biaya overhead pabrik departemen pertama. Sedangkan barang dalam proses pada
departemen lanjutan telah menikmati harga pokok dari departemen sebelumnya
ditambah harga pokok yang telah dinikmati pada departemen lanjutan tersebut.
Untuk menentukan besarnya harga pokok, perlakuan
harga pokok produk dalam proses awal periode dapat dipakai tiga metode, yaitu:
(a)
Metode harga pokok rata-rata
Perlakuan
produk dalam proses awal dengan metode harga pokok rata-rata memiliki
karakteristik sebagai berikut:
(1) Setiap elemen harga pokok produk dalamproses awal
digabungkan dengan elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
(2) Oleh karena setiap elemen haraga pokok produk dalam proses
digabungkan dengan biaya periode yang bersangkutan, harga pokok produk dalam
proses awal harus dipecah kembali ke dalam setiap elemen biaya.
(3) Besarnya produksi ekuivalen dapat dihitung sebesar jumlah
produk selesai ditambah jumlah produk dalam proses akhir.
(4) Besarnya harag pokok satuan untuk setiap elemen biaya
dihitung dengan cara membagi jumlah total elemen biaya yang bersangkutan
setelah digabung jumlah produksi ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.
(5) Tidak dibedakan asal dari produk selesai dan produk dalam
proses akhir apakah dari produk dalamproses awal atau dari produk yang baru
dimasukkan dalam proses.
(b)
Metode harga pokok pertama masuk pertama keluar
Perlakuan
produk dalam proses awal dengan metode harga pokok pertama masuk pertama keluar
memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1) Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam
proses awal menjadi produk selesai, baru kemudian untuk mengolah produk yang
baru masuk proses yang sebagian akan menjadi bagian produk selesai yang disebut
current production dan sisanya merupakan produk dalam proses akhir
periode.
(2) Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak
digabungkan degan elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
(3) Harga pokok produk dalam proses pada awal periode tidak
perlu dipecah kebali menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.
(4) Besarnya produksi ekuivalen adalah sebesar jumlah produk
dalam proses awal dikalikan tingkat penyelesaian yang masih diperlukan untuk
menyelesaikan menjadi produk selesai, ditambah produksi current atau
produk yang baru masuk proses produksi tersebut dan dapat diselesaikan pada
periode itu juga, ditambah produk dalam proses akhir dikalikan tingkat
penyelesaian yang sudah dinikmati.
(5) Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung
sebesar elemen biaya yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah
produksi ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.
(6) Harga pokok produk selesai dipisahkan menjadi dau golongan,
pertama,produk selesai yang berasal dari produk dalam proses awal, kedua,
produk selesai yang berasal dari produksi current.
(c)
Metode harga pokok terakhir masuk pertama keluar
Perlakuan
produk dalam proses awal dengan metode harga pokok tearakhir masuk pertama
keluar memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1) Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk yang
baru masuk pada periode yang bersangkutan, apabila semua produk yang baru masuk
proses sudah dapat diselesaikan kemudian untuk mengolah produk dalam proses
awal. Apabila produk yang baru masuk belum dapat diselesaikan secara
keseluruhan berarti terdapat kenaikan jumlah produk dalam proses pada akhir
periode, maka harga pokok produk awal periode akan diserap oleh harga pokok
produk dalam proses akhir periode.
(2) Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal periode
tidak perlu digabungkan dengan setiap elemen biaya yang terjadi pada periode
bersangkutan.
(3) Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung
dengan cara membagi elemen biaya tertentu yang terjadi pada periode yang bersangkutan
dengan produksi ekuivalen biaya yang bersangkutan.
(4) Dibedakan asal darri produk selesai atau produk dalam
proses akhir dari produk yang baru masuk proses dengan yang berasal dari produk
dalam proses awal.